Serba-Serbi Realita Kehidupan Mahasiswa di Hsinchu

Bisa diterima di universitas di Taiwan, pasti seneng banget, apalagi kalo universitasnya bagus. Tapi, rasa senang itu biasanya diimbangi rasa takut. Mungkin ada yang takut karena pertama kali jauh dari orang tua, pertama kali ke luar negeri, terus takut bahasa, takut gimana kuliahnya, takut duit cukup apa nggak? So, berdasarkan pengalamanku (berasa tua, hahaha), aku mau share pengalaman nih buat mahasiswa baru tentang masalah-masalah kita. 😀

  1. Bahasa
    Pasti semua sudah tahu lah, kalo bahasa sehari-hari di Taiwan itu pakai mandarin, lebih tepatnya sih mandarin tradisional. Nah, jadi bahasa yang dipakai di Taiwan sama di Cina daratan beda, soalnya di Cina daratan pakai simplified chinese. Katanya sih, emang lebih susah yang tradisional. Jadi kalo mau cari kursus di Indonesia sebelum datang ke sini, cari yang tradisional mandarin ya!
    Back to topic, untuk survive, kita pasti butuh mandarin. Buat beli makan dan minum terutama. Aneh kan kalo kita udah pernah kuliah di Taiwan tapi gak bisa mandarin. Minta tolong! :)) Sayang banget, kan? Padahal, sekolah menawarkan kursus gratis. Apa salahnya belajar? Buat have fun ajalah! Belajarlah sebanyak mungkin yang kamu bisa. Syarat beasiswa yang sekarang sih, wajib ambil bahasa mandarin 1 per semester untuk master. Kurang tau kalo buat PhD.
    Tapiii, kalo misal emang gak tau sama sekali mandarin waktu pertama kali datang ke sini, jangan takut! Gunakan bahasa tubuh! Hahaha.. Kalo mau beli makanan tinggal tunjuk sana, tunjuk sini. Jadi, gak perlu takut.
    Belajar bahasa mandarin sedari dini sebelum berangkat ke Taiwan sangat dianjurkan, mengingat setiap mahasiswa akan memiliki kehidupan di luar kampus yang tentunya akan berhadapan secara langsung dengan masyarakat sekitar yg tidak fasih berbahasa inggris. Beberapa lab mengadakan rapat dengan menggunakan bahasa mandarin, tentunya banyak keuntungan yg bisa di dapat selama meeting jika mahasiswa fasih dalam berbahasa mandarin.

  2. Beasiswa
    Ini ngomongnya mulai serius, masalah beasiswa khususnya di NCTU. Kalo tuition waiver, kami rasa pasti anak international dapat. Tapi living costnya beda. Jadi, tiap departemen punya jatah living cost. Nggak semua orang yang apply beasiswa bisa dapat living cost. Sistem beasiswanya kompetitif. Kalo kita memenuhi syarat, nilai di atas 80, kita cuma bisa daftar beasiswa. Yang bakalan dapat living cost itu yang dapat peringkat 1 sampai berapa gitu, di tiap departemen. Yang lainnya ya tuition waiver aja.
    Lamanya beasiswa itu setahun. Terus, beasiswanya dikompetisikan sama anak sedepartemen. Mahasiswa baru pada umumnya di ranking berdasarkan transkrip pada semester sebelumnya, sedangkan mahasiswa lama di ranking berdasarkan progress penelitian (list of publication menjadi poin penting). Jadi, buat anak fall 2013 yang master, pasti bakal daftar beasiswa buat spring 2014, so ntar saingannya sama anak fall 2012 serta angkatan2 atas lainnya. Bisa dibayangkan sendirilah saingannya berapa banyak.
    Ada juga beberapa jurusan yang mempertimbangkan beasiswa dengan melihat bobot mata kuliah yang diambil. Kalo mata kuliahnya terlalu gampang dapat nilai bagus, mata kuliahnya nggak dianggap.
    Saran sih, beasiswa dari kampus ini harusnya pilihan terakhir. Coba daftar beasiswa yang ditawarkan di Indo, misalnya beasiswa pemerintah Taiwan, DIKTI, terus perusahaan apa gitu kek. Nah beasiswa jenis ini diurus jauh hari sebelum pemasukan aplikasi untuk belajar di taiwan.

  3. Biaya hidup dan sumber duit
    Gak habis-habis emang kalo ngomongin masalah duit. Sumber utama duit yang pasti beasiswa. Sumber kedua itu duit dari profesor. Profesor ngasih duit kalo kita dapat proyek. Berdasarkan pengalaman, semester satu banyak yang nggak dapat proyek. Semester dua baru. Terus kalo jumlah duit, paling banyak profesor ngasih 6000 per bulan. Tapi ada juga yang cuma ngasih 10000 per semester. Jadi, mengandalkan duit dari profesor aja pasti kurang. Sumber ketiga itu kerja. Kerja di sini gak boleh sembarangan. Kita harus ngurus work permit yang harus disetujui sama profesor terlebih dahulu. Setelah dapat work permit, kita bisa kerja. Bisa jadi TA (Teaching Assistant), atau kerja part time yang biasanya dibayar 100 per jam. Tapi, kalo mau kerja part time, harus bisa bahasa mandarin. Last resource, beasiswa dari perusahaan di tw, recently ada offering buat mahasiswa s1 dan s2 dikhususkan untuk mahasiswa yg datang dari asia tenggara.
    Biaya hidup. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk tinggal di sini. Hal-hal tersebut antara lain, (kenapa jadi formal banget? -_-): makan, tempat tinggal, asuransi, dll. Harga makanan berkisar antara 50-70 NT sekali makan. Untuk tempat tinggal, dorm di asrama cowok harganya 12500 NT dan dorm di asrama cewek harganya 9500 NT. Dorm dibayar per semester. Biaya lain yang penting itu NHI (National Health Insurance). Harga NHI itu 750 per bulan. Karena mahasiswa baru udah bayar alternative insurance sebesar 3000 NT untuk empat bulan pertama pada waktu orientasi, pembayaran asuransi selanjutnya untuk delapan bulan sisanya seharga 6000 NT.
    Dari uang yang kita dapat, kita harus bisa menyisakan 18500 NT buat cowok dan 15500 NT buat cewek. Tiap bulan, yang cowok nabung 3100 NT, yang cewek 2600 NT.

  4. Kuliah
    Masalah yang paling penting dalam perkuliahan adalah kuliah dengan media mandarin. Tidak semua mata kuliah dibuka dengan bahasa inggris, sedari awal mencoba mencari tau bahasa pengantar untuk core course. Kalau udah kuliah yang defaultnya pakai mandarin, jangan berharap terlalu tinggi. Ada dosen yang peduli sama murid internasional, tetapi ada juga yang nggak peduli bahkan ada mengusir anak internasional dari kelasnya. Ada yang slidenya pakai bahasa inggris tapi menjelaskannya pakai mandarin, tetapi ada juga yang slidenya pakai bahasa mandarin dan menjelaskannya pakai mandarin. Ada profesor yang suka nulis huruf mandarin di papan tulis dan bilang kalo soalnya yang keluar dari apa yang beliau tulis. Bahkan waktu ujian, ada juga anak internasional yang dikasih soal bahasa mandarin. Ada juga TA yang mau kasih tutorial dalam english, tapi ada juga TA yang tidak peduli. Bagaimanapun kondisi yang kita ambil, kita tetap harus siap sama worst case nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s